I Can Try Forever
"Kamu cantik malam ini."
Itu adalah kalimat yang diucapkan Jellal pada malam pesta perpisahan Fairy Tail Academy. Wajah Erza langsung merona karena malu.
Semua
orang disekitar mereka sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Tetapi
Jellal menyukai privasi, maka itu dia menggandeng tangan Erza dan
membawanya pergi dari keramaian.
Mereka sedang berada di sebuah
ballroom kecil sebuah villa di kota Crocus. Kota Crocus biasa dikenal
sebagai kota yang memiliki banyak bunga-bunga indah. Setiap jalanan kota
Crocus pasti ada saja bunga. Suasana malam kota Crocus terasa sangat
romantis.
Jellal dan Erza berjalan ke sebuah jembatan kecil yang
melihat ke sungai. Hari ini bulan purnama, dan sang bulan dipantulkan
jelas sekali di permukaan air sungai. Erza tersenyum sambil melihat ke
arah sungai tersebut, mengagumi pemandangan yang sedang dia saksikan.
Keindahan kota Crocus yang diterangi dengan sentuhan lembut kilau
rembulan pada malam hari, dimana semua bunga-bunga berwarna-warni
menghiasi pinggiran-pinggiran kota. Pemandangan yang sangat indah.
Jellal
memegang tangan Erza lembut dan menatapnya. Hanya butuh sebuah tatapan
dan mereka berdua bisa langsung mengetahui perasaan masing-masing. Erza
tersenyum dengan sangat manis, senyum yang tidak akan bisa dilupakan
Jellal setelah bertahun-tahun.
Jellal menarik nafas panjang.
"Erza, aku sayang banget sama kamu. Kamu mau kan jadi pacarku?"
Dan keindahan malam itu disempurnakan dengan anggukan kecil dari Erza.
O.O
"Erza, aku sayang banget sama kamu."
Aku terbangun. Lagi-lagi mimpi yang sama. Entah siapa mengatakan hal itu kepadaku.
Aku
mendapati pipiku merona merah dan dadaku berdegup sangat kencang. Aku
memijat leherku, merasa capek secara emosional. Mimpi itu sudah
menghantui diriku selama berhari-hari. Selalu mimpi yang sama, seseorang
yang tersenyum kepadaku sambil mengatakan kalimat itu. Tetapi wajah
orang itu selalu tidak pernah terlihat.
Dokter berkata aku terkena
amnesia. Amnesia total. Aku tidak ingat hal apapun dari kehidupan
lamaku. Aku cuma ingat namaku Erza, hanya itu.
Mimpi itu mulai
muncul dua hari setelah aku didiagnosa terkena amnesia. Selama itu,
memori tentang masa laluku belum terlalu banyak terkumpul. Aku hanya
mengingat hal-hal kecil seperti kenyataan bahwa aku tidak punya keluarga
lagi, tapi anehnya sangat banyak teman. Apakah aku senang
bersosialisasi? Sepertinya begitu.
Semenjak mimpi itu datang,
kenangan-kenangan masa laluku mulai bermunculan. Aku mulai mengingat
semua teman-temanku kembali. Belum secara detail, tapi paling tidak
wajah dan nama mereka.
Aku menengok untuk melihat jam yang ada
disebelah tempat tidurku. Pukul 8 malam. Aku menghela nafas kecewa,
mengingat waktu kunjungan sudah berakhir.
Itu artinya, lagi-lagi,
waktu sendirian di tempat gelap dan kecil ini. Aku sudah cukup muak
dengan bau rumah sakit, aku harap aku akan cepat pulang.
O.O
Aku terburu-buru mengambil kunci mobilku. Ah mobilnya di bengkel! Aku baru ingat.
Cepat-cepat
aku berlari ke kamar Ultear untuk meminjam mobilnya. Ultear memandangku
dengan pandangan skeptis, "emang masih waktu kunjungan?"
Aku
berhenti dan melihat jam dinding. Sudah pukul 8 malam. Sial. Ini semua
karena rapat tambahan yang diberikan oleh bos sialan itu. Hilanglah
sudah kesempatanku untuk mengunjungi Erza.
Aku terkulai lemas di
sofa ruang tamu. Karena Ultear berkerja hari ini, aku tidak bisa
meminjam mobilnya. Dengan menggunakan kendaraan umum pasti aku akan
menjadi bau dan kotor, kondisi yang pantang aku tunjukkan kepada Erza.
Jadi pilihan terakhirku adalah cepat-cepat pulang ke rumah, mandi, dan
pergi ke rumah sakit dengan mobil Ultear. Kelihatannya aku gagal.
Aku terduduk lemas, sayup-sayup mendengar suara tv dari dalam. Tanpa hal apapun yang bisa kulakukan aku duduk dalam diam.
Dan lagi-lagi, setelah sekian kalinya dalam satu hari ini, aku berdoa untuk kesembuhan Erza.
O.O
Hujan.
Itulah pemandangan pertama yang kudapat pada saat aku memandang keluar
jendela. Sepertinya hari sudah cukup pagi, tetapi aku tidak bisa tahu
karena langit mendung.
Seorang dokter dan suster masuk untuk
mengecek keadaanku. Hanya pertanyaan-pertanyaan biasa, lalu mereka
pergi. Aku berdiri dan mandi lalu berganti baju (aku amnesia bukan
lumpuh) dan mulai memakan sarapanku.
Makanan rumah sakit bisa jadi
enak, tapi bisa juga tidak. Untungnya, makanan hari ini terasa enak.
Aku sedang makan ketika pintu kamarku terbuka lebar.
"Erza!"
teriak seorang pemuda berambut pink. Yang disusul dengan seorang
perempuan berambut pirang yang memarahi sang laki-laki dari belakang.
"Natsu! Berapa kali aku bilang jangan berisik!"
Dari belakang
mereka lalu muncul seorang pria berambut dan bermata gelap, "kalian ini
pagi-pagi berisik amat si. Kesian tu Erza mau istirahat."
Aku
tertawa melihat celotehan mereka. Mereka terdiam dan melihatku lalu kami
tertawa bersama. Mereka adalah teman-temanku, Natsu, Lucy dan Gray.
Sebanyak itu aku sudah bisa mengingat.
Hari ini hari Sabtu, karena
itu mereka bisa datang mengunjungiku pada pagi hari. Kami berbicara
sampai makan siang, lalu mereka semua pamit karena ada urusan
masing-masing. Aku curiga mereka ingin pacaran dengan pacarnya
masing-masing.
Ah iya, pacar. Pertanyaan itu sudah kutanyakan
berkali-kali tetapi mereka berkata aku tidak punya. Tidak punya pacar,
maksudku. Ini malah membuatku semakin bingung dengan indentitas orang
yang berada di mimpiku itu. Aku tahu dia tidak mungkin salah satu dari
temanku tadi. Tetapi, berhubung aku tidak tahu siapa-siapa, jadi aku
tidak bisa menebak.
Aku memandang hujan yang terus turun lewat
jendela. Tiba-tiba aku teringat dengan wajahnya. Lalu aku bertanya
kepada diriku sendiri, apakah Jellal hari ini akan datang?
O.O
Jellal datang. Kira-kira sesaat setelah aku berpikiran seperti itu, dia datang. Seakan-akan dia bisa membaca pikiranku.
Tetapi,
sering sekali aku merasa begitu. Kelihatannya Jellal tahu tentang
diriku lebih dari diriku sendiri. Bukan karena aku terkena amnesia,
tetapi karena dia bisa saja melakukan hal-hal yang membuatku nyaman.
Berada didekatnya membuatku merasa aman dan tenang.
Aku menatap
Jellal bingung. Kelihatannya aku lebih dekat padanya daripada
orang-orang lain. Ah betul aku tidak pernah bertanya apa hubungan kita
berdua.
"Jellal, dulu kita punya hubungan apa si? Teman? Rekan kerja? Saudara?" tanyaku.
Ekspresi perih terlihat melewati wajah Jellal untuk sesaat, mungkin imajinasiku. Jellal lalu tersenyum, dia selalu tersenyum padaku, dan menjawab pertanyaanku.
"Kita teman dari SMA. Cukup dekat," akhirnya dia menjawab.
Aku mengangguk, sekarang mengerti kenapa dia tahu banyak hal tentang diriku. Tapi kenapa aku merasa ada sesuatu yang mengganjal?
O.O
Pertanyaan
itu. Ditanyakan dengan kepolosan terpancar dari kedua mata coklatnya.
Aku ingin langsung menangis begitu saja, tetapi aku berusaha untuk tetap
kuat. Erza tidak perlu tahu hal-hal itu.
Dengan berhati-hati aku memilih kata-kata dan menjawab, "kita teman dari SMA. Cukup dekat."
Erza
terlihat cukup puas dengan jawaban itu. Yang membuatku cukup senang dan
sedih di saat yang bersamaan. Senang dia tidak berusaha mencari tahu,
sedih dia tidak berusaha mencari tahu. Lagi-lagi kesedihan karena dia
tidak mengingat apapun tentang kita melandaku.
Aku menarik nafas
dan memasang senyum, tahu bahwa untuk melewati ini aku harus tegar.
"Erza, hujannya uda berhenti. Kita jalan-jalan keluar yuk?" ajakku.
Erza melihat ke luar jendela dan mengangguk sambil tersenyum.
Lagi-lagi senyum itu.
O.O
Aku
berjalan berdampingan dengan Jellal menuju ke taman. Salah satu tempat
favoritku di rumah sakit ini adalah tamannya yang luas. Kami berjalan
beriringan sambil melihat-lihat banyak bunga. Entah kenapa, melihat
bunga membuatku sangat bahagia.
Jellal menatapku dengan tatapan itu,
tatapan yang tidak bisa kuungkapkan lewat kata-kata. Entah kenapa, aku
mendapat kesan bahwa akulah satu-satunya orang yang ditatap Jellal
dengan tatapan seperti itu. Dengan tatapan penuh… rasa sayang.
Aku berhenti tiba-tiba. Jellal merasa kaget dan melihatku dengan wajah yang bingung. Aku berkata, "kamu yang ada dimimpiku."
Jellal mengangkat alisnya, semakin bingung. "Kamu bilang kamu sayang sama aku."
Jellal
terlihat kaget. Mungkin sebagian dari dirinya mengira aku sudah
mendapatkan ingatanku kembali, tapi melihat ekspresinya, aku yakin dia
cepat-cepat menepis pemikiran itu. Jellal menarik tanganku dan
mengajakku duduk. Entah kenapa, ketika tangannya memegang tanganku, itu
semua terasa sangat… tepat.
Kami berdua duduk dan aku menunggunya
untuk berbicara. Dia menatapku dengan bola mata hitamnya dan berkata,
"Erza, aku sayang banget sama kamu."
Wajahku terasa panas,
jantungku berdegup dengan sangat kencang. Tidak salah lagi, dialah orang
yang berada dimimpiku. Tubuhku bergetar, aku tidak mampu menatap
matanya. Jadi selama ini, Jellal memiliki perasaan kepadaku? Dan dengan
polosnya tadi aku bertanya apa hubungan kita selama ini. Tapi tunggu,
apa itu artinya aku memiliki perasaan yang sama?
Begitu banyak
pertanyaan berkecamuk di dalam kepalaku. Tiba-tiba tangan Jellal
menyentuh lenganku dengan lembut, "Erza, kamu tidak perlu berusaha
mengingat. Aku cuma mau kamu tahu aja."
Aku menatap Jellal dengan
tatapan tidak percaya. Dan disaat itu juga air mataku mengalir. Seorang
pemuda tampan dan baik hati seperti Jellal menyayangi orang sepertiku.
Orang yang terkena amnesia dan bahkan tidak ingat nomor sepatunya
sendiri! Aku menangis tersedu-sedu. Jellal membawaku ke dalam dekapannya
dan aku menangis di dadanya.
Entah kenapa, dengan dirinya berada
disini dan memelukku, aku merasa semua akan menjadi baik-baik saja. Aku
berhenti menangis dan menatapnya. Matanya terlihat jujur, tanpa
kebohongan sedikitpun.
"Kenapa?" tanyaku, "kenapa kamu masih disini? Kenapa kamu ga pergi aja? Masih banyak cewe lain di dunia."
Jellal tersenyum padaku dan menjawab dengan yakin, "karena aku mencintaimu Erza, dan bukan cewe lain di dunia."
Cuma
satu kalimat singkat, tetapi itu bisa membuat perasaanku bercampur-aduk
tidak karuan. Aku menjawabnya lagi, "kenapa? Aku tidak pantas mendapat
cinta yang seperti itu. Aku bahkan tidak ingat aku ini siapa!"
"Ini
tidak ada hubungannya dengan siapa dirimu Erza. Ini cuma tentang aku
yang berada disini, dan aku mencintaimu. Udah itu aja."
Aku ingin menangis lagi. Bagaimana mungkin seseorang bisa mencintai begitu dalam? Mencintaiku begitu dalam?
Walaupun
banyak pertanyaan berseliweran dikepalaku, entah kenapa aku merasa
tenang. Hatiku merasa lega dan anehnya aku merasa bahagia. Apa ini
karena Jellal?
Entahlah, diriku sudah cukup kacau untuk memikirkan
apapun lagi. Tetapi dengan satu tatapan saja ke mata Jellal, anehnya
aku tahu semua akan menjadi baik-baik saja. Seakan-akan Jellal sedang
berkata, suatu hari nanti aku akan pasti akan mengingat dirinya.
O.O
Apakah aku akan ingat? Entahlah, aku tidak tahu.
Mungkin
aku akan ingat, mungkin aku tidak akan ingat. Tapi, itu bukanlah hal
yang penting. Yang penting adalah, kenyataan bahwa Jellal akan selalu
ada untukku. Selama apapun waktu yang kubutuhkan.
Dan aku tahu,
dengan dia berada disitu, suatu hari nanti aku akan ingat. Dan ketika
saat itu datang, dia masih akan berada disana menungguku.
Karena dia adalah Jellal, pria yang dulu kucintai dan masih mencintaiku. Aku akan berusaha mencintainya sampai kapanpun.
O.O


0 komentar:
Posting Komentar